Persaingan Coffee Shop di Indonesia: Studi Kasus Kopi Kenangan, Fore, TOMORO, Janji Jiwa, Point Coffee, Tuku, dan Kopi Nako Reading Kampus Para Bos Kopi Indonesia: Mengintip Pendidikan Founder Kopi Kenangan, Fore, Tuku dan Janji Jiwa

Kampus Para Bos Kopi Indonesia: Mengintip Pendidikan Founder Kopi Kenangan, Fore, Tuku dan Janji Jiwa

Kampus Para Bos Kopi Indonesia: Mengintip Pendidikan Founder Kopi Kenangan, Fore, Tuku dan Janji Jiwa

Kopi Kenangan, Fore Coffee, Toko Kopi Tuku, dan Janji Jiwa memiliki cerita, positioning, dan strategi bisnis yang berbeda. Namun, ada satu kesamaan menarik dari orang-orang di balik pertumbuhan brand tersebut: pendidikan mereka ternyata banyak bersinggungan dengan dunia bisnis, ekonomi, keuangan, hingga pemasaran.

Lantas, di mana para founder dan sosok utama di balik brand kopi Indonesia ini kuliah?

Ada yang menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Ada yang memilih kampus di Indonesia. Ada yang mempelajari finance dan accounting, ada pula yang menekuni bisnis dan ekonomi.

Menariknya, tidak satu pun dari empat sosok yang dibahas dalam artikel ini datang dari pendidikan formal yang secara khusus mengajarkan cara meracik kopi.

Mereka justru belajar tentang angka, bisnis, ekonomi, pemasaran, dan bagaimana sebuah organisasi bekerja.

Apakah itu kebetulan?

Mari melihat perjalanan pendidikan Edward Tirtanata dari Kopi Kenangan, Vico Lomar dari Fore Coffee, Andanu Prasetyo dari Toko Kopi Tuku, serta Billy Kurniawan dari Janji Jiwa.

Sekilas Pendidikan Para Bos Kopi Indonesia

Sosok Brand Perguruan Tinggi Pendidikan
Edward Tirtanata Kopi Kenangan Northeastern University Finance & Accounting
Vico Lomar Fore Coffee Universitas Trisakti Sarjana Ekonomi; sejumlah profil menyebut konsentrasi Akuntansi
Andanu Prasetyo Toko Kopi Tuku Universitas Prasetiya Mulya Bisnis
Billy Kurniawan Janji Jiwa Seattle University Finance & Marketing

Sekilas, tabel tersebut sudah menunjukkan pola yang menarik.

Empat sosok dengan empat perjalanan berbeda, tetapi semuanya memiliki pendidikan yang dekat dengan business and economics.

Namun, cerita di balik masing-masing pendidikan tersebut jauh lebih menarik daripada sekadar nama jurusan.

1. Edward Tirtanata — Kopi Kenangan

Dari Finance dan Accounting ke Bisnis Kopi

Sebelum dikenal sebagai salah satu pendiri Kopi Kenangan, Edward Tirtanata menempuh pendidikan di Northeastern University, Amerika Serikat.

Ia mengambil Finance dan Accounting di D'Amore-McKim School of Business. Edward bahkan menyelesaikan pendidikannya dengan predikat magna cum laude.

Ada satu bagian dari perjalanan kuliahnya yang menarik.

Northeastern dikenal dengan pendekatan experiential learning, termasuk program co-op yang memungkinkan mahasiswa mendapatkan pengalaman profesional selama masa pendidikan.

Edward menjalani co-op di Ernst & Young (EY) Jakarta.

Pilihan lokasinya juga bukan tanpa alasan. Edward memang sudah mempunyai rencana kembali ke Indonesia, sehingga pengalaman memahami lingkungan bisnis dan perpajakan Indonesia dinilai lebih relevan dibandingkan menjalani pengalaman serupa di Amerika Serikat.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Edward tidak langsung membangun Kopi Kenangan.

Ia sempat masuk ke perdagangan komoditas bersama ayahnya. Bisnis tersebut kemudian terkena dampak kejatuhan pasar komoditas sekitar 2014.

Pengalaman bisnis berikutnya membawanya ke industri minuman, termasuk membangun Lewis & Carroll sebelum akhirnya bersama para partner mendirikan Kopi Kenangan pada 2017.

Di sinilah latar belakang Finance dan Accounting menjadi menarik untuk diperhatikan.

Membangun jaringan coffee shop berskala besar bukan hanya persoalan mengetahui berapa gram kopi yang harus digunakan untuk menghasilkan espresso.

Ada persoalan modal.

Cash flow.

Unit economics.

Ekspansi.

Investasi.

Valuasi.

Hingga bagaimana perusahaan berkomunikasi dengan investor.

Edward sendiri mengatakan kepada Northeastern bahwa pendidikan finance dan accounting yang diterimanya mempunyai peran penting dalam kemampuannya menggalang modal dan menjalankan perusahaan berskala besar.

Jadi, dalam kasus Edward, hubungan antara pendidikan dan perjalanan bisnisnya relatif mudah terlihat.

Ia memang membangun perusahaan kopi.

Tetapi pekerjaan seorang CEO dari jaringan kopi besar pada akhirnya jauh melampaui urusan membuat kopi.

Apa yang Menarik dari Northeastern University?

Salah satu karakter yang menonjol dari Northeastern adalah pendekatan pembelajaran melalui pengalaman.

Mahasiswa tidak hanya bertemu teori di kelas, tetapi didorong untuk berhadapan dengan lingkungan profesional melalui co-op dan experiential learning.

Perjalanan Edward memberikan contoh bagaimana pengalaman tersebut dapat dimanfaatkan secara strategis.

Ia sudah mengetahui ingin kembali ke Indonesia. Maka pengalaman profesionalnya pun diarahkan ke Indonesia.

Pelajaran menariknya mungkin bukan sekadar:

“Edward kuliah di luar negeri.”

Yang lebih menarik justru bagaimana seseorang menggunakan kesempatan selama kuliah untuk mendekatkan diri kepada dunia yang nantinya ingin dimasukinya.

2. Vico Lomar — Fore Coffee

Dari Universitas Trisakti, Angka, hingga Puluhan Tahun di F&B

Kalau Edward mempunyai cerita pendidikan dan entrepreneurship, perjalanan Vico Lomar menawarkan perspektif berbeda.

Vico menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Trisakti pada 1999. Sejumlah profil media yang membahas perjalanan kariernya menyebut bidang Akuntansi.

Dan karier awal Vico memang sangat dekat dengan angka.

Sebelum malang melintang di industri F&B, ia pernah bekerja sebagai Senior Staff Accounting di PT Metropolitan Kentjana.

Namun, yang membuat perjalanan Vico berbeda adalah apa yang terjadi setelah kuliah.

Kariernya kemudian membawa Vico ke berbagai perusahaan F&B.

Ia pernah berada di lingkungan Dunkin', J.CO Donuts & Coffee, Krispy Kreme/Premier Doughnut, Excelso, hingga Maxx Coffee sebelum akhirnya menjadi salah satu sosok penting dalam pertumbuhan Fore Coffee.

Dengan demikian, pendidikan formal hanya menjadi bab awal.

Vico kemudian mengumpulkan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya diperoleh dari ruang kuliah:

pengalaman operasional selama bertahun-tahun.

Bagaimana membuka dan menjalankan gerai.

Bagaimana mengelola orang.

Bagaimana menghadapi pelanggan.

Bagaimana menjaga operasi.

Bagaimana sebuah jaringan F&B tumbuh.

Dan bagaimana memperbaiki bisnis ketika kondisi pasar berubah.

Perjalanan ini membuat kasus Vico menarik jika dibandingkan dengan founder lainnya.

Kalau pendidikan memberikan fondasi untuk memahami angka dan ekonomi perusahaan, pengalaman panjang di lapangan memberinya pemahaman mengenai bagaimana sebuah bisnis F&B benar-benar dijalankan.

Apa yang Menarik dari Universitas Trisakti?

Universitas Trisakti merupakan salah satu perguruan tinggi swasta yang telah lama hadir dalam pendidikan tinggi Indonesia.

Dalam konteks perjalanan Vico, hal yang paling relevan bukan mencari apakah satu kampus “lebih baik” daripada kampus lainnya.

Yang menarik adalah melihat bagaimana pendidikan ekonomi dan akuntansi dapat menjadi fondasi yang kemudian berkembang melalui pengalaman profesional.

Perjalanan Vico memperlihatkan sesuatu yang sering terlupakan ketika membicarakan pendidikan seorang entrepreneur.

Jurusan kuliah tidak selalu menentukan pekerjaan terakhir seseorang.

Ia dapat menjadi fondasi.

Sisanya dibentuk oleh pengalaman, kesempatan, keputusan karier, dan kemampuan untuk terus belajar.

3. Andanu Prasetyo — Toko Kopi Tuku

Dari Tugas Kuliah ke Ketertarikan terhadap Bisnis Kopi

Cerita Andanu Prasetyo atau yang akrab disapa Tyo mungkin menjadi salah satu yang paling menarik dalam artikel ini.

Founder Toko Kopi Tuku tersebut menempuh pendidikan bisnis di Universitas Prasetiya Mulya.

Ia menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 2013.

Namun, hubungan antara kampus dan bisnis yang kemudian dibangunnya tidak berhenti pada nama jurusan.

Ketertarikan Andanu terhadap bisnis kopi disebut sudah muncul ketika ia mengerjakan proyek/tugas ketika kuliah.

Ia melihat sebuah persoalan menarik.

Indonesia merupakan negara penghasil kopi, tetapi pada saat itu konsumsi kopi domestiknya dinilai masih memiliki ruang besar untuk berkembang.

Dari pengamatan tersebut muncul sebuah pertanyaan bisnis:

Kalau Indonesia punya kopi, bagaimana membuat lebih banyak orang Indonesia menikmati kopi?

Andanu tidak langsung mendirikan Tuku.

Setelah lulus, ia terlebih dahulu membangun Toodz House pada 2013. Kemudian pada 2015 lahirlah Toko Kopi Tuku.

Perjalanan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa sebuah tugas atau penelitian kampus tidak harus berakhir sebagai dokumen yang disimpan setelah mendapat nilai.

Sebuah observasi dapat berubah menjadi rasa penasaran.

Rasa penasaran dapat berubah menjadi eksperimen.

Dan eksperimen dapat berkembang menjadi bisnis.

Apa yang Menarik dari Prasetiya Mulya?

Dalam konteks artikel ini, Prasetiya Mulya mempunyai relevansi yang sangat kuat.

Universitas tersebut memang mempunyai akar yang kuat dalam pendidikan bisnis dan manajemen.

Prasetiya Mulya menjelaskan pendekatan pendidikannya melalui project-based dan experiential learning, termasuk menghubungkan proses belajar dengan persoalan industri dan pengembangan bisnis.

Program S1 Bisnisnya juga menekankan kreativitas, kolaborasi, kepemimpinan, negosiasi, serta pengalaman menghadapi proses bisnis.

Menariknya, Tuku sendiri kini disebut oleh Prasetiya Mulya sebagai salah satu brand lokal yang dibangun alumninya.

Kasus Andanu memperlihatkan bentuk hubungan kampus dan entrepreneurship yang berbeda dari Edward.

Edward mendapatkan pengalaman profesional melalui co-op.

Sementara pada Andanu, lingkungan pendidikan bisnis dan proyek akademik ikut menjadi bagian dari fase awal ketertarikannya terhadap industri kopi.

Dan hasil akhirnya juga berbeda.

Tuku tidak berkembang dengan karakter yang sama seperti Kopi Kenangan.

Brand ini dikenal melalui pendekatan yang kuat terhadap produk, lingkungan sekitar, konsumen, serta gagasan menjadi “tetangga” bagi pelanggannya.

Dua orang dapat sama-sama belajar bisnis.

Namun, bisnis yang mereka bangun tidak harus terlihat sama.

4. Billy Kurniawan — Janji Jiwa

Finance Bertemu Marketing

Billy Kurniawan membawa kombinasi pendidikan yang berbeda lagi.

Founder Jiwa Group tersebut menempuh pendidikan di Seattle University, Amerika Serikat, dengan latar Finance & Marketing.

Catatan pendidikan profesional Billy juga menunjukkan ia pernah menempuh Business Administration di Shoreline Community College serta mempelajari Basic Chinese dan Business Chinese di Shanghai Normal University.

Kombinasi Finance dan Marketing menarik jika dikaitkan dengan bisnis F&B.

Finance berbicara tentang angka.

Marketing berbicara tentang manusia.

Yang satu membantu memahami bagaimana bisnis menghasilkan dan mengelola uang.

Yang lainnya membantu memahami bagaimana produk diperkenalkan, diposisikan, dan dipilih konsumen.

Namun seperti tiga sosok sebelumnya, Billy juga tidak langsung muncul sebagai founder jaringan kopi besar setelah meninggalkan kampus.

Ia pernah bekerja sebagai Account Executive di Lowe dan menangani aktivitas advertising serta marketing.

Billy kemudian masuk lebih dalam ke bisnis F&B, termasuk melalui Calais Tea & Coffee, sebelum akhirnya mendirikan Janji Jiwa.

Dengan kata lain, pendidikan Finance & Marketing bertemu dengan pengalaman nyata membangun bisnis minuman.

Ketika Janji Jiwa lahir, Billy tidak memulai dari nol pengalaman.

Ia sudah pernah merasakan dunia F&B sebelumnya.

Ini penting karena pendidikan formal dan pengalaman profesional tidak harus dipertentangkan.

Dalam banyak perjalanan entrepreneur, keduanya justru saling melengkapi.

Apa yang Menarik dari Seattle University?

Seattle University berada di

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please note, comments need to be approved before they are published.