Persaingan Bank Middle Tier Indonesia: CIMB Niaga, OCBC, PermataBank, atau Danamon?
Ketika berbicara mengenai bank besar di Indonesia, perhatian biasanya langsung tertuju pada BCA, Bank Mandiri, BRI, dan BNI. Namun tepat di bawah kelompok tersebut terdapat persaingan yang tidak kalah menarik.
CIMB Niaga, OCBC Indonesia, PermataBank, dan Bank Danamon berada dalam kelompok bank dengan aset sekitar Rp268 triliun hingga Rp373 triliun pada akhir 2025. Keempatnya juga memiliki karakter yang menarik: masing-masing terhubung dengan grup keuangan besar di Asia.
CIMB Niaga merupakan bagian dari CIMB Group asal Malaysia, OCBC terhubung dengan grup perbankan Singapura, PermataBank dikendalikan Bangkok Bank dari Thailand, sementara Danamon merupakan bagian dari MUFG asal Jepang.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang memiliki aset terbesar.
Siapa yang sebenarnya memiliki posisi paling kuat dalam memperebutkan nasabah Indonesia, dan siapa yang paling relevan untuk generasi Milenial dan Gen Z?
Perbandingan CIMB Niaga, OCBC, PermataBank, dan Danamon
Data berikut menggunakan posisi akhir 2025 sejauh angka yang tersedia dapat dibandingkan secara konsisten.
| Indikator 2025 | CIMB Niaga | OCBC Indonesia | PermataBank | Danamon |
|---|---|---|---|---|
| Total aset | Rp372,7 T | Rp308,1 T | Rp268,3 T | Rp275,7 T |
| DPK / simpanan nasabah | Rp270,5 T | Rp243,5 T | Rp192,8 T | Rp176,9 T |
| CASA | Rp189,5 T | Rp141,1 T | ±Rp123,2 T* | Rp75,2 T |
| CASA ratio | 70,0% | 58,0% | 63,9% | ±42,5%* |
| Kredit/pembiayaan | Rp238,3 T | Rp173,4 T | Rp163,3 T | Rp212,7 T** |
| Pertumbuhan DPK YoY | 3,8% | 18,0% | 3,9% | 16,0% |
| Indikator digital 2025 | 91,6% transaksi via kanal digital/branchless | Volume transaksi digital +46% | Digitalisasi menjadi bagian strategi universal banking | Transaksi D-Bank PRO +35% |
| Ekosistem/grup | CIMB Group | OCBC Group | Bangkok Bank | MUFG + Adira |
| Karakter consumer | Mass–upper retail luas | Urban, affluent & wealth | Universal banking | Consumer + automotive ecosystem |
| Posisi terhadap nasabah muda | Kuat sebagai bank utama serbaguna | Kuat untuk young affluent | Potensial, tetapi diferensiasi digital kurang menonjol | Potensial melalui ecosystem acquisition |
* Nilai CASA Permata merupakan perkiraan dari rasio CASA 63,9% terhadap DPK Rp192,8 triliun. Rasio CASA Danamon merupakan perhitungan dari CASA Rp75,2 triliun terhadap DPK Rp176,9 triliun.
** Angka Danamon mencakup total kredit dan trade finance konsolidasian.
Secara ukuran, jarak CIMB Niaga dengan tiga pesaingnya cukup terlihat. Total aset CIMB mencapai Rp372,7 triliun dengan DPK Rp270,5 triliun dan CASA Rp189,5 triliun. Rasio CASA mencapai 70%, tertinggi di antara empat bank dalam perbandingan ini.
OCBC berada di posisi berikutnya dengan aset Rp308,1 triliun. Yang menarik justru pertumbuhannya: DPK meningkat 18% menjadi Rp243,5 triliun dan CASA tumbuh 24% menjadi Rp141,1 triliun. Rasio CASA mencapai 58%.
PermataBank memiliki aset Rp268,3 triliun dan DPK Rp192,8 triliun. Meskipun skala asetnya lebih kecil, komposisi pendanaannya menarik karena rasio CASA mencapai 63,9%, naik dari 55,3% setahun sebelumnya.
Danamon menutup 2025 dengan aset sekitar Rp275,7 triliun. DPK mencapai Rp176,9 triliun, sementara CASA mencapai Rp75,2 triliun. Pertumbuhannya cukup agresif: DPK naik 16% dan CASA naik 18% secara tahunan.
Dari Sisi Jumlah Nasabah, CIMB Paling Terlihat
Ada satu masalah ketika mencoba menentukan pemenang berdasarkan jumlah nasabah: keempat bank tidak mempublikasikan jumlah nasabah dengan definisi dan periode yang selalu sama.
Karena itu, membandingkan angka customer satu per satu seolah-olah merupakan dataset yang identik dapat menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan.
Namun CIMB memberikan disclosure yang cukup jelas. Pada September 2025, CIMB Niaga menyebut telah memiliki 9,1 juta nasabah di seluruh Indonesia.
Angka tersebut menjadi lebih menarik ketika dikombinasikan dengan data pendanaan.
CIMB bukan hanya memiliki customer base besar yang diungkapkan secara publik, tetapi juga memiliki DPK terbesar, CASA terbesar, dan rasio CASA tertinggi di antara empat bank yang dibandingkan.
Dengan kata lain, relationship tersebut tidak hanya menghasilkan banyak rekening, tetapi juga berhasil menarik dana murah dalam jumlah besar.
Pemenang dari sisi customer franchise: CIMB Niaga
Jika "pemenang" didefinisikan sebagai bank dengan kombinasi skala nasabah yang terungkap, DPK, CASA, dan kedalaman hubungan transaksi, CIMB Niaga saat ini memiliki posisi paling kuat di kelompok ini.
Namun ada satu bank yang patut diperhatikan: OCBC.
OCBC memang masih lebih kecil daripada CIMB secara aset maupun DPK, tetapi pertumbuhan DPK 18% dan CASA 24% selama 2025 jauh lebih cepat daripada pertumbuhan DPK CIMB sebesar 3,8%.
Jadi gambarnya cukup menarik:
CIMB memimpin secara skala. OCBC sedang mengejar dengan pertumbuhan funding yang agresif.
Mengapa CASA Penting untuk Membaca Kekuatan Nasabah?
Jumlah rekening saja sebenarnya tidak cukup untuk mengetahui seberapa kuat hubungan sebuah bank dengan konsumennya.
Seseorang bisa mempunyai lima rekening bank, tetapi hanya satu yang digunakan untuk menerima gaji, membayar tagihan, QRIS, kartu kredit, investasi, dan menyimpan uang.
Bank tersebut pada praktiknya adalah primary bank.
Karena itulah CASA—giro dan tabungan—menjadi indikator yang menarik.
CIMB memiliki CASA Rp189,5 triliun atau sekitar 70% dari DPK. PermataBank berada di 63,9%, OCBC 58%, sedangkan CASA Danamon sekitar 42,5% berdasarkan angka akhir 2025.
Dari perspektif customer franchise, tingginya CASA memberikan indikasi bahwa bank tidak semata-mata menarik deposito berdasarkan suku bunga, tetapi mempunyai basis dana transaksional yang besar.
Dan di sini keunggulan CIMB menjadi semakin terlihat.
Pertempuran Sebenarnya Sudah Berpindah ke Smartphone
Ada perubahan penting dalam industri perbankan.
Cabang tetap dibutuhkan, tetapi frekuensi interaksi antara nasabah dengan bank sekarang sebagian besar terjadi melalui smartphone.
Pada CIMB, 91,6% transaksi finansial nasabah sepanjang 2025 dilakukan melalui kanal digital/branchless, termasuk OCTO, BizChannel@CIMB, ATM, dan OCTO Pay.
OCBC mencatat pertumbuhan volume transaksi digital sebesar 46% YoY pada 2025. Pengguna aktif internet banking dan OCBC Mobile juga tumbuh 13%, sementara nilai transaksi digitalnya mencapai sekitar Rp1.500 triliun.
Danamon mencatat pertumbuhan jumlah transaksi D-Bank PRO sebesar 35%, sementara nilai transaksinya meningkat 29%.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa kompetisi empat bank ini bukan lagi sekadar perebutan lokasi kantor cabang.
Aplikasi bank sekarang adalah kantor cabang yang dikunjungi nasabah setiap hari.
Lalu, Bagaimana dengan Milenial dan Gen Z?
Di sinilah kompetisinya menjadi jauh lebih rumit.
Milenial dan terutama Gen Z tidak selalu melihat bank dengan cara yang sama seperti generasi sebelumnya.
Survei Jakpat terhadap 2.133 responden pada akhir 2024 menunjukkan 93% responden menggunakan e-wallet. Di antara Gen Z, kemudahan pembayaran, aplikasi yang user-friendly, serta aspek keamanan/regulasi menjadi pertimbangan penting. Jakpat juga mencatat kecenderungan Gen Z mencari biaya transaksi yang rendah.
Survei Jakpat berikutnya pada semester II 2025 juga menunjukkan 44% responden menggunakan layanan banking, dan di antara kelompok tersebut 89% menggunakan mobile/internet banking serta 50% menggunakan digital banking.
Artinya, generasi muda tidak sekadar membandingkan bank dengan bank.
Mereka membandingkan pengalaman menggunakan bank dengan GoPay, DANA, SeaBank, Bank Jago, blu, dan berbagai aplikasi finansial lainnya.
Bahkan penelitian mengenai preferensi Gen Z yang diterbitkan pada 2026 menemukan SeaBank, blu by BCA Digital, dan Bank Jago menonjol dalam preferensi digital banking Gen Z. Faktor yang dianggap penting meliputi biaya transfer rendah, kecepatan transaksi, navigasi aplikasi, promo, cashback, dan keamanan.
Ini berarti empat bank yang kita bahas menghadapi lawan yang berbeda ketika memperebutkan generasi muda.
CIMB Niaga: Kandidat Terkuat Menjadi “Main Bank”
Kekuatan CIMB untuk Milenial dan Gen Z bukan semata-mata OCTO.
Keunggulan yang lebih penting adalah kelengkapan ekosistem.
Nasabah dapat memulai dari tabungan dan transaksi sehari-hari, kemudian bergerak ke kartu kredit, KPR, kredit kendaraan, investasi, valuta asing, wealth management hingga CIMB Preferred tanpa harus pindah bank.
Ini penting untuk Milenial yang kini banyak memasuki fase peningkatan pendapatan, membeli rumah, membangun keluarga, dan mengakumulasi aset.
CIMB juga sudah mempunyai skala nasabah besar dan CASA ratio 70%.
Karena itu, dibandingkan tiga rivalnya, CIMB terlihat paling siap memainkan strategi “grow with the customer”: memperoleh nasabah relatif muda dan meningkatkan nilai relationship seiring peningkatan pendapatan mereka.
OCBC: Sangat Menarik untuk Young Affluent
OCBC mempunyai positioning yang sedikit berbeda.
Bank ini tidak harus mengalahkan CIMB dalam jumlah nasabah untuk membangun bisnis consumer yang kuat. OCBC dapat mengejar nasabah urban dengan pendapatan dan aset finansial yang lebih tinggi.
Pertumbuhan CASA 24% dan pertumbuhan pengguna aktif internet banking serta OCBC Mobile sebesar 13% selama 2025 memberikan sinyal bahwa strategi tersebut mendapatkan traction.
Untuk Milenial yang mulai memasuki kategori affluent—profesional, entrepreneur, investor, dan nasabah dengan kebutuhan wealth management—OCBC mempunyai proposisi yang menarik.
Dengan kata lain, jika CIMB bermain lebih lebar, OCBC berpotensi bermain lebih dalam pada kelompok tertentu.
PermataBank: Funding Kuat, Tetapi Cerita Digital Perlu Lebih Tajam
PermataBank mempunyai satu angka yang tidak boleh diremehkan: CASA ratio 63,9%.
Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan OCBC.
CASA Permata juga tumbuh sekitar 20% pada 2025, menunjukkan peningkatan kualitas funding yang signifikan.
Permata juga mempunyai Bangkok Bank di belakangnya dan strategi sebagai universal bank, termasuk penguatan funding, wealth management dan transaction banking.
Tantangannya berada pada persepsi konsumen muda.
Dibandingkan OCTO milik CIMB atau positioning wealth yang semakin konsisten dari OCBC, Permata membutuhkan diferensiasi consumer proposition yang lebih mudah dikenali oleh generasi yang memilih layanan finansial dari layar smartphone.
Secara fundamental banknya kuat. Pertanyaannya adalah bagaimana kekuatan tersebut diterjemahkan menjadi brand preference di generasi berikutnya.
Danamon: Jangan Dilihat Sebagai Bank yang Berdiri Sendiri
Danamon mungkin merupakan kasus paling berbeda.
Untuk memahami Danamon, kita tidak cukup melihat D-Bank PRO.
Ada MUFG dan Adira Finance di belakang ekosistemnya.
Danamon memiliki akses alami terhadap ekosistem otomotif, pembiayaan kendaraan, perusahaan, payroll, supplier, pendidikan, hingga berbagai relationship yang dapat dikonversi menjadi nasabah consumer.
Pada 2025, Consumer Banking Danamon tumbuh 10%. Di sektor pendidikan, Danamon telah bekerja sama dengan lebih dari 120 institusi dan jumlah rekening dalam ekosistem tersebut tumbuh 27%.
Ini memberikan jalur akuisisi yang berbeda.
CIMB dan OCBC bisa memenangkan nasabah melalui produk dan aplikasi, sementara Danamon mempunyai kesempatan memperoleh nasabah melalui ecosystem banking.
Kelemahannya adalah engagement digital retail masih perlu terus diperkuat agar nasabah yang diperoleh melalui ekosistem benar-benar menjadikan Danamon sebagai bank utama.
Jadi, Siapa Pemenangnya?
Kalau hanya satu indikator digunakan, jawabannya bisa berbeda.
Tetapi ketika aset, DPK, CASA, customer disclosure dan penetrasi transaksi digital dibaca bersama, CIMB Niaga memiliki customer franchise paling kuat di antara empat bank ini pada data 2025 yang tersedia.
CIMB mempunyai aset terbesar Rp372,7 triliun, DPK terbesar Rp270,5 triliun, CASA terbesar Rp189,5 triliun, CASA ratio tertinggi 70%, serta disclosure 9,1 juta nasabah pada September 2025.
Namun posisi berikutnya tidak sesederhana melihat aset.
OCBC merupakan challenger yang sangat menarik, terutama karena DPK tumbuh 18%, CASA tumbuh 24%, dan aktivitas digitalnya meningkat pesat.
PermataBank mempunyai kualitas funding yang mengejutkan, dengan CASA ratio 63,9%, tetapi perlu membangun consumer/digital proposition yang lebih menonjol.
Sementara Danamon mempunyai ecosystem advantage melalui MUFG dan Adira yang sulit direplikasi bank lain.
Bagaimana Posisi Mereka di Milenial dan Gen Z?
Jika diringkas dari positioning dan bukti yang tersedia:
| Bank | Milenial | Gen Z | Kekuatan Utama |
|---|---|---|---|
| CIMB Niaga | Kuat | Kuat/potensial | Scale + OCTO + produk lengkap |
| OCBC | Kuat, khususnya affluent | Potensial | Wealth + digital + urban customer |
| PermataBank | Cukup kuat | Perlu diferensiasi | CASA + universal banking |
| Danamon | Cukup kuat | Potensial | MUFG + Adira + ecosystem acquisition |
Tabel ini adalah interpretasi positioning, bukan hasil survei preferensi head-to-head terhadap empat merek tersebut.
Dan justru ada temuan yang lebih penting.
Untuk memenangkan Gen Z, empat bank ini tidak cukup hanya saling mengalahkan.
Mereka harus menghadapi bank digital dan fintech yang sejak awal dibangun dengan biaya rendah, onboarding sederhana, promo, UX cepat, QRIS, dan pengalaman aplikasi sebagai produk utama.
Dalam studi preferensi Gen Z yang tersedia, pemain seperti SeaBank, blu dan Bank Jago justru menonjol.
Jadi persoalan bagi CIMB, OCBC, Permata dan Danamon bukan sekadar “siapa yang memiliki aplikasi mobile banking terbaik?”
Pertanyaannya adalah:
bisakah bank konvensional membuat generasi muda memilih mereka sebagai primary bank?
Kesimpulan: CIMB Memimpin Hari Ini, tetapi Pertarungan Sesungguhnya Adalah Nasabah 10 Tahun Mendatang
Dari empat bank middle-tier yang dibandingkan, CIMB Niaga saat ini mempunyai posisi paling lengkap.
Skala nasabah besar, DPK dan CASA memimpin kelompoknya, rasio CASA mencapai 70%, serta mayoritas transaksi telah berpindah ke kanal digital.
OCBC menjadi pesaing yang menarik karena pertumbuhan funding dan digitalnya jauh lebih cepat. PermataBank mempunyai kualitas funding yang kuat, sedangkan Danamon mempunyai keunggulan ekosistem yang unik melalui MUFG dan Adira.
Namun pertarungan terbesar mungkin belum terjadi.
Seorang Gen Z berusia 22 tahun hari ini mungkin hanya memiliki beberapa juta rupiah di rekening. Bagi bank, nilai ekonominya terlihat kecil dibandingkan nasabah affluent.
Sepuluh atau lima belas tahun kemudian, orang yang sama bisa menerima payroll puluhan juta rupiah, mengambil KPR, membeli mobil, menggunakan kartu kredit, membeli reksa dana dan obligasi, menukar valuta asing, mengambil asuransi, hingga masuk ke layanan wealth management.
Karena itu, memenangkan generasi muda bukan semata-mata tentang memperoleh saldo mereka hari ini.
Pemenang jangka panjang adalah bank yang berhasil menjadi rekening utama ketika pendapatan dan kekayaan nasabah tersebut tumbuh.
Dan berdasarkan posisi akhir 2025, CIMB Niaga memiliki start paling kuat di antara empat bank ini—sementara OCBC terlihat sebagai pengejar yang paling menarik untuk diperhatikan.